Sabtu, 04 Februari 2012

Chemical Monster

            Kicauan burung mulai menyibak rerumputan dan ranting-ranting patah yang tersapu embun pagi hari. Nun jauh disana ku melihat sang surya mulai mengitari bumi dengan memancarkan sejuta pesona kharismanya dengan menyunggingkan senyum terindahnya. Pagi ini, aku akan memulai aktifitas wajibku setiap harinya yaitu menuntut ilmu. Kedengarannya simple tetapi butuh tekad, niat dan usaha yang keras dalam menuntut ilmu. Hmmmmpph...hari senin!! I hate Sunday...!! gumamku dalam hati. Tentunya, hari ini adalah hari pertama kami melaksanakan Upacara Bendera. Jam sudah menunjukkan pukul 6.30, aku bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah karena, hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah lama aku dibuai dan dimanja oleh liburan sekolah yang begitu membosankan selama dua minggu. Butuh dua puluh menit untuk sampai ke sekolah dengan tepat waktu, karena aku takut dihukum oleh guru BK (Bimbingan Konseling) dan Satpam sekolah ku.
            Selama perjalanan hatiku tak tenang, aku ragu bisa sampai disekolahku dengan selamat (selamat tanpa diomelin karena telat dan selamat nggak diceramahin untuk datang tepat waktu). Akhirnya, aku sampai juga didepan gerbang sekolah tepat pada jam 6.45 yaahh...hampir saja aku telat. Dengan wajah berseri-seri aku melangkahkan kakiku ke arah gerbang sekolah dengan mantap dan begitu percaya dirinya. Saat ku mengangkatkan wajah ku, berharap bertemu dengan teman-teman sekelasku tetapi, yang aku temui malah Monster itu. Oh iya, aku hampir lupa mengenalkan siapa namaku ke kalian semua. Namaku Zidka Zahrana. Teman-temanku biasa memanggiku dengan nama Zhie_Zhie. Sekarang aku duduk di kelas XII IPA 1, mata pelajaran favoritku adalah Bahasa Inggris dan Fisika, dengan kulit sawo matang, supel, berpenampilan menarik, easy going dan tentunya berparas manis (hehehehehehe...). Prestasiku disekolah sangat memuaskan dan tidak membuat Orang Tua ku malu, malah membuat mereka bangga dengan prestasi yang ku raih disekolah. Aku bersekolah di SMA yang berbasis dan mengedepankan nilai-nilai Ketuhanan dan bernuansa Islami yang lumayan bergengsi dan terkenal di kota ku.
            Sekolah inilah yang mengajarkan aku tentang indahnya Islam, bersikap dan bertutur lemah lembut dengan sesama dan mengajarkan nilai moral yang begitu berharga. Sekarang, aku menginjak kelas XII, dimana kelas yang paling berbahaya, ibaratnya pasien yang sedang sekarat aku tiada bedanya layaknya murid yang tengah masuk ICU (Intensive Care Unit) dengan keadaan serba genting, mendadak, kepepet dan kejepit karena harus dihadapkan di Ujian Nasional dimana, penentuan terakhirku selama aku menuntut ilmu di sekolah ini. Sekolah ku ini, dengan aturan yang ketat membuatku merasa seperti Boarding School atau sekolah-sekolah pondok lainnya, hanya bedanya kami tidak diasramakan.
            Di kelas aku mempunyai gank namanya d’rainbow . Dan, karena gank itu pula aku sering dihukum oleh guruku sampai dihukum untuk membersihkan laboratorium sekolah. Dalam gank itu ada 5 orang, yaitu: Aku, Nayna, Imha, Dyan dan Ichal. Nayna dengan perawakannya yang tinggi menjadi pusat perhatian anak-anak sekolah. Imha, temanku yang celometan dan yang anehnya, mulutnya itu nggak pernah stop untuk berbicara (Nggak capek kali yaa...). Dyan, temanku waktu aku sejak kelas X sampai kami keluar dari sekolah ini pun selalu bersama dan yang terakhir Ichal temanku yang cowok sendiri, dan memakai kacamata tetapi, pintar banget Matematika dan Ichal ini adalah korban dari ketidakadilan dari kami ber-empat.
            Saat ku masuk kelas, aku tidak melihat siapapun. Bahkan sahabat-sahabatku pun nggak ada. Setelah tas ku simpan dalam rak meja, aku bergegas menuju tengah lapangan dan mencari-cari sahabat-sahabatku. Menjelang, upacara segera dimulai yang ku temui hanya Nayna dan Ichal. “Tapi, Dyan dan Imha kemana yaaa??? Hatiku mulai bertanya-tanya. Sejenak ku terpaku dalam lamunanku tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkanku dari arah belakang Haayyyyyyy!! Kok ngelamun sich mbak?? Mikirin apa sich?? PR?? Kan nggak mungkin, ini kan hari pertama masuk sekolah sayang...dengan wajah bahagia dan di iringi dengan lesung pipinya. Nggak kok Nay. Aku lagi nyari Imha ama Dyan. Kok dari tadi nggak keliyatan ya. Mereka sakit ya?jawabku penuh cemas. Ouwhh..Imha ma Dyan??? Kamu nggak tau ya say. Sekarang peraturan disekolah kita ada yang baru lagi loh. Semua siswa harus sampai disekolah sepuluh menit sebelum Upacara Bendera dimulai”. “Jadi, Imha ma Dyan telat ya???ku tanya dengan hati gundah. Ya iyalah masa’ ya iya donk!!

***Beberapa jam kemudian***

Upacara berakhir dengan lancar dan penuh khidmat. Tetapi, hatiku masih dilandan kecemasan, karena dua orang sahabatku belum nongol juga dari tadi. Apa jangan-jangan Imha ma Dyan kena hukuman dari guru BK kali yaaaselidikku dalam hati. Saat ku berjalan menuju kelas, tiba-tiba ada yang memanggilku dengan suara yang keras sekali Zhie.....!!! Sini cepetan....!!! langkahku terhenti sesaat dan menoleh ke belakang dan ternyata dua makhluk aneh memanggilku. Ku dekati arah suara itu dan berusaha bertanya-tanya ada pa sebenarnya. Zhie...ternyata Imha ma Dyan kena hukuman dari guru-guru loh. Soalnya mereka berdua datangnya telat. Liyatin ajha tuh, pasti bakal lama eksekusinya! dengan semangat Nayna memulai pembicaraan. Ironisnya lagi, aku denger-denger nama mereka akan masuk ke blacklist atau DAFTAR NAMA-NAMA MURID KELAS XII YANG BERMASALAH dan yang kejamnya lagi,,yang mengurus kasusnya anak kelas XII diserahin ke Pak Sudirman selaku Ketua Jurusan IPA Ichal menambah. Waaahh...lagi-lagi ketemu ama pak Sudirman...nggak bakal selamat tuh nyawanya mereka berdua tambahku lagi. Ayo buruan masuk...ntar kita kena’ kasus lagi kayak Imha dan Dyansuara Ichal memecah keheninganku. Secepat kilat kami berjalan menuju kelas IPA 1 yang berada di sebelah timur lorong kedua dari Ruang Laboratorium tepat dimana Pak Sudirman menghabiskan waktunya untuk bereksperimen atau sekedar membersihkan ruang favoritnya tersebut.
Baru dua menit aku duduk tenang dibangku ku tiba-tiba Pak Sudirman datang dengan gagahnya menuju kelasku. Karena, hari ini adalah hari Senin dimana jam pertama adalah mata pelajaran KIMIA. Mendengar namanya saja aku gemeteran apalagi mempelajarinya. Guru Kimia ku bernama M. Sudirman. Nama yang cukup bersahaja tetapi, melihat orangnya ilfeel ku muncul. Beliau sudah lama diangkat menjadi guru tetap di sekolahku dan sudah mengabdi hampir 20 tahun. Setiap alumni yang berasal dari sekolahku semuanya mengenal siapa itu Pak Sudirman, ciri-cirinya, perawakannya, sifatnya, cara ngajarnya, dan semua yang melekat di diri guruku tersebut. Tak hanya pak Sudirman, tetapi masih banyak lagi deretan nama guru yang killer disekolahku. Karena, killer-nya sampai-sampai siswa sekolahku nggak ada yang berani menyapa bila berpapasan. Dulu, waktu aku kelas XI aku punya guru perempuan yang sama killer nya dengan Pak Sudirman dan sialnya mereka sama-sama guru Kimia. Namanya Ibu Rahayu. Kami panggil dengan sebutan “ Mak Lampir ”. Dulu, nilai ulangan Kimia ku jeblok, dan hampir 98% semua mendapat nilai rendah di ulangan Kimia, dan hukumannya adalah jari-jari kami diketok dengan penghapus papan yang terbuat dari kayu, terkadang kalau kami tidak bisa menyelesaikan PR kaki kami dipukul dengan kayu, imbasnya banyak temanku yang nggak masuk sekolah gara-gara hal itu, dan nggak bisa tidur tiga hari tiga malam. Dalam imajinasiku yang tak henti-hentinya memikirkan begitu takutnya aku jika berhadapan dengannya kini, dengan secara nyata dan terang-terangan aku berhadapan dengannya, dengan entengnya beliau berkata Eh.. Zidka!! Ngapain aja dari tadi ngelamun nggak  jelas?? Mikirin apa kamu??? Artis sinetron??dengan wajah takut dan menggigil ku menjawab Nggg....ngggg...ngggggaaakk kok pak. Saya hanya lagi memikirkan kira-kira hari ini teman sebangku saya ke sekolah atau nggak!! dengan sedikit lantang ku mengakhiri ucapanku.  Siapa teman sebangku mu?? tanya nya dengan mengkerutkan dahinya. Lalu ku jawab Dyan pak..” “Ohh...Dyan?? temenmu sedang di proses di Ruang BK dan untuk mata pelajaran Kimia hari ini dia nggak bisa masuk karena temenmu itu bermasalah
Bener-bener saat yang menegangkan buat ku, karena aku yakin pasti 40 orang anak yang ada di kelasku hari ini pasti bakal dibantainya habis-habisan. Apalagi aku sangat membenci mata pelajaran Kimia, karena guruku tersebut. Ku persiapkan diriku supaya mampu melewati dua jam kedepan bersama dengan Pak Sudirman di kelas. Sebelum, pelajaran dimulai tiba-tiba beliau menginstruksikan perintah kepada kami Sebelum pelajaran kita mulai, saya akan merazia kalian satu-satu. Dimulai dari yang putri. Ayo....semuanya maju kedepan. Semuanya maju kedepan papan tulis dan meng-iyakan semua perintah beliau. Alasan beliau merazia kami adalah supaya murid-murid terlihat rapi, tidak sembrono, disiplin dalam berpakaian. Saat razia berlangsung, ada teman ku yang kena cemoohan oleh beliau Perempuan kok sembrono. Ke sekolah aja bajunya nggak di setrika, bagaimana terlihat rapi??? Kerudungnya lagi urak-urakan...cepat diperbaiki!!kemudian ada lagi temanku yang roknya robeknya dengan lantang beliau mulai berkicau lagi Mau belajar jadi artis??? Rok sekolah kok di robekin...Apa nggak bisa di jahit????Setelah seperempat menit merazia yang putri, kini giliran yang putra yang dirazia oleh beliau, dengan berbagai macam alasan, cemoohan, kritikan pedas hingga dipermalukan depan teman-teman yang lain. 

Ini baju apa kain pel?? Kayak nggak pernah dicuci satu tahun, kotornya luar biasa itu kalimat pertama yang keluar dari mulut beliau. Kemudian disusul dengan Mau jadi artis di sini?? Rambutnya kenapa dicat?? Memangnya ini rambut atau tembok. Jangan berlajar jadi preman ya disini!!! Di sini tempat orang-orang yang punya etika Kemudian kritikan selanjutnya potongan rambut model apa lagi ini?? Saya kan sudah bilang, kalian disini ini siswa bukan artis!! Mending model rambutnya bagus tapi, potongannya kayak orang motong sayur (saking berantakannya). Dan yang terakhir yang paling memalukan adalah ada temanku yang paling bandel dikelas dan sering bertatap muka dengan Pak Sudirman di Ruang BK bahkan jarang masuk sekolah dan sekarang temenku itu berurusan lagi dengannya karena ujung celananya sobek. Dengan nada yang menyambar bagai kilat beliau mengerutkan dahinya lagi Lain kali dikembangkan lagi ya sobekan celananya. Sobekannya kurang panjang!! Supaya sobekannya tambah panjang, biar saya yang menyobeknya tiba-tiba ditangannya beliau ada gunting dan langsung menggunting celana temanku setinggi lutut. Benar-benar memalukan........!!!
Setelah shock theraphy pertama berjalan dengan begitu menegangkan sekarang masuk ke shock theraphy selanjutnya. Salah satu teman cewek ku lupa me-nonaktifkan HP-nya saat mata pelajaran Kimia berlangsung. Lagi-lagi matanya tertuju pada bunyi suara bunyi HP tersebut, dengan mimik wajah yang khas (killer) beliau menuju arah bunyi tersebut dan mulai meninterogasi temenku tersebut. “Siapa yang nyuruh kamu bawa HP ke sekolah??? Apa gunanya bawa HP ke sekolah, buat gaya-gaya??? Belum tentu juga pulsanya ada, atau bisa jadi itu HP Orang Tua dirumah, kemudian dibawa ke sekolah untuk dipamerkan, begitu??? Saya paling tidak suka dengan siswa yang tidak disiplin dan siswa yang susah diatur, kalau mau berperilaku bebas, jangan disini tapi dipasar sana!!. Dahsyat!! Guru ku ini terkenal dengan beberapa julukan yang begitu sensasional dan tak asing jika mendengarnya di lingkungan sekolah. Beberapa nama yang melekat dengan beliau antara lain: 1. Sudirman Killer, 2. Si Bibir Sexy, karena bibirnya kecil banget, 3. Guru nggak professional karena, cara ngajarnya yang membosankan dan bisanya suka marah-marah dan mengkritik orang lain, 4. Pak Sudirman Serba Kecil, soalnya mulai dari badannya, bibirnya, kepalanya, serta telinganya semuanya kecil, 5. The Black Killer, karena sifatnya yang kasar dengan warna kulit hitam legam, 6. Orang Papua, lagi-lagi menyindir warna kulitnya, 7. Guru sadis, 8. Tukang kritik dan kata-katanya sering kali menyakiti hati siswanya. Yang special lagi julukan untuk pak Sudirman dari ku adalah Chemical Monster.
Hari senin ini benar-benar mimpi buruk yang aku alami dan aku harus menelan pil pahit ini. Setelah jam Kimia berakhir aku, Nayna dan Ichal segera menuju Ruang BK bermaksud untuk melihat keadaan dua sahabat kami yang terkena kasus.Zhie, kira-kira hukuman apa ya yang didapat Imha ma Dyan???” “Nggak tau Nay,,do’ain ajah moga-moga cuman teguran ringan tiba-tiba Ichal memutus perbincangan kami Itu Imha sama Dyan...!!!” “mana??? tanyaku sambil mencari-cari Imha dan Dyan. Itu loh didepan Ruang BK. Langsung kami bertiga berlari menuju arah Imha dan Dyan. Kalian di apa’in ajha ma guru BK?? Ichal memulai pembicaraan lagi.Cuman teguran biasa kok..soalnya, tadi aku ma Dyan telat”, “Katanya sich,,kalo udah tiga kali telat secara berturut-turut ntar bakal di skors tambah Dyan.Hmm..syukurlah kalo’ cuman teguran ringan, ketimbang kalian berdua dipulangkankata Nayna. Untung nggak dipulangkan, daripada di usir secara tidak terhormat depan gerbang sekolahjawabku. Udah..udaahh...yang penting Dyan ma Imha nggak terjerat kasus langsung kami ber-empat menyambar Lebay Lho Chal......!!! Ketik C spasi D Capek Dech!! Hahahahahaha....!!! dengan suara yang keras. Tiba-tiba dari arah Ruang BK pak Sudirman keluar dengan mata melotot Heehhh...!! Siapa yang suruh kalian ribut-ribut di areal ini??? Kamu juga udah telat malah bikin ribut dengan menunjuk ke arah Imha. Imha terdiam dan menunduk, kemudian ku beranikan untuk pamit depan Pak Sudirman Maafkan kami pak, kami tidak bermaksud untuk seperti itu. Permisi Pak....dengan wajah memelas dan ketakutan.
Kemudian, kami berlalu dan menuju ke arah kelas, dengan kompaknya kami bersorak Chemical Monsteeeeeeeeerrrrrrrrr.........plizzzz deeeeehhhhhh!!! langsung kami tertawa terbahak-bahak dan saat kami berlima lewat depan Ruang Laboratorium tiba-tiba sosok perempuan keluar dari arah pintu dengan membawa ekspresi wajah yang menyeramkan sambil berkata Heehhhh!!! Masuk kelas sana!! Malah keliaran....!!!” “Maaf bu...Ichal langsung cekatan menjawab. Setelah itu, kami berlari berhamburan dan dengan kompaknya lagi kami bersorak Mak Lamppiiiiirrrrr....iihhhh...atuuuuttttHahahahahaha....!!! Benar-benar hari yang melelahkan, menegangkan, menyebalkan, sekaligus menyenangkan.


Setiap orang mempunyai beberapa alasan untuk mencintai bahkan membenci seseorang yang begitu lekat dengan masa lalunya. Tetapi, janganlah kebencian itu kita pelihara di hati kita yang paling dalam, karena kebencian itu akan sirna apabila kita membiasakan diri kita dengan rasa saling merindukan, mencintai, menyayangi, dan mengerti satu sama lain




Tidak ada komentar: