Sabtu, 04 Februari 2012

Jika Kaki Tak Mampu, Maka Tanganku Yang Akan Menggantikan


     Mata enggan berkedip jikalau memandang rerumputan hijau nan indah dihamparan padang. Sore itu perempuan berumur sepuluh tahun tengah asyik bercanda ria bersama bisikan angin yang kerap kali mengganggu matanya yang sayu. Mata yang tak mampu lagi menahan kantuk yang luar biasa. Siang itu, rupanya ia tengah menggembalakan kambing kakeknya. Setiap hari ia menggembalakan kambing kakeknya, tak mengenal lelah, letih, dan capek. Dia bahkan tak memperdulikan peluh yang membasahi pipinya. Perempuan seumurnya seharusnya berada dirumah, melakukan pekerjaan yang biasa perempuan kerjakan. Misalnya, mencuci, memasak, menyapu rumah atau mengepel rumah. Tapi, tidak untuk perempuan berlesung pipi ini. Baginya, tak ada perbedaan. Ia biasa mengerjakan pekerjaan yang berat-berat tanpa memikirkan apakah itu pekerjaan seorang laki-laki ataukah perempuan.
     Sama halnya dengan menggembala kambing. Hampir teman sesama gembala kambingnya semuanya laki-laki. Diantara penggembala yang ada di desanya hanya dia yang perempuan. Tapi, ia tak mau pusing dengan hal itu, yang terpenting baginya adalah dapat meringankan beban kakeknya. Baginya, orang yang dia miliki didunia ini hanyalah kakeknya. Karena, sejak kecil ia sudah dirawat, diasuh dan dibesarkan oleh kakeknya. Pernah sekali ia menanyakan keberadaan Orang Tuanya, dan kakek dengan santai menjawab Orang Tuamu lama telah tiada sejak kamu berumur lima tahun. Sejak saat itu, ia tak lagi memikirkan Orang Tuanya entah orang tuanya masih hidup ataukah meninggal dan ia hanya memiliki seorang kakek yang sudah tua renta yang sangat baik kepadanya. Ia menyadari bahwa kakeknya kini sudah semakin tua, tak mampu lagi untuk bekerja yang berat-berat dan sekarang kakeknya pun sering sakit-sakitan.
Hari sudah hampir petang, kini ia harus kembali ke rumah dengan beberapa ekor kambingnya setelah seharian penuh kambingnya menyantap habis rerumputan. Butuh waktu lima belas menit ia sampai ke gubug sederhananya. Dengan langkah gontai ia sampai ke gubug sederhananya dengan didampingi oleh kambing-kambing piaraan kakeknya. Kakek, aku pulang. Suara nya memecah kesunyian yang tercipta di gubug tua nan kecil. Meskipun kecil tetapi, gubug itu terlihat indah dan damai. Tidak ada keramaian yang mengganggu hati dan pikiran dan jauh dari polusi udara. Semua serba alami dan asri. Disampingnya dikelilingi oleh rerumputan hijau yang menjalar mengikuti arah pagar sehingga pagar yang tadinya berasal dari pagar bambu kini berubah menjadi pagar yang ditumbuhi oleh macam-macam tumbuhan. Disebelah kanan, terdapat kebun sayuran. Kakeknya, gemar sekali berkebun. Ditanami beberapa sayuran, seperti tomat, kangkung, sawi, wortel, kol, cabe, timun dan segala macam jenis sayuran. Sebelah kiri terdapat pohon pisang yang sangat subur. Pohon pisangnya banyak yang berbuah dan kelihatannya ada yang matang dan sudah hampir menguning. Benar-benar surga. Meskipun sederhana tapi menyejukkan hati bagi yang memandang.
Teriakannya belum juga ada jawaban dari dalam gubug. Kakek?? Kakek dimana??? kembali ia memanggil kakeknya, dan mengintip dari balik dinding jerami yang dianyam. Tiba-tiba kakeknya mengagetkan dari belakang, Cucu kakek, sudah balik ternyata. Tersontak ia langsung mengernyitkan dahinya Aaahh,,kakek bikin orang kaget saja. Aku sudah sepuluh menit yang lalu. Kakek kemana saja?? tanya nya. Kakek, baru saja dari tetangga sebelah. Kakek merasa kesepian dirumah nggak ada kerjaan. Jadi, kakek iseng saja main ke rumahnya Pak Suryo. Alhamdulillah, pak Suryo menjamu kakek dengan segelas kopi hangat dan dua potong pisang goreng jawabnya dengan panjang lebar. Nayla sudah makan?? dengan cepat menambah pertanyaannya.
Yaaa..Nayla. itulah namanya. Nama yang diberi oleh kakeknya. Perempuan tegar yang selalu menikmati hidupnya dengan penuh kebahagiaan dan selalu menebarkan senyum, walau ia tahu keadaannya sangatlah terpuruk, tetapi ia tetap bersyukur kepada Allah, bahwa ia masih diberikan kesehatan, kekuatan untuk menjalani kehidupannya dan membantu kakeknya.
Nay belum makan kek..laper nihh.. celetuk Nayla pada kakeknya. Ya sudah, ayo masuk. Kakek udah masak sayur bening dan ikan bandeng goreng kok tadi sore. Alhamdulillah masih hangat kok. Apa mau kakek ambilkan?? itulah wujud perhatian kakeknya pada cucu semata wayangnya itu. Setiap hari Nayla selalu dilayani oleh kakeknya setiap ia pulang dari tempat gembala kambing. Nggak usah kek, Nayla bisa sendiri kok.. jawab Nayla lirih, padahal sebenarnya ia juga merasa kelelahan karena berjalan selama lima belas menit dengan melewati sungai dan naik turun bukit kecil. Perjalanan yang melelahkan. Nggak usah Nay, biar kakek aja. Kamu duduk manis saja di situ, sekalian kakek buatkan teh hangat ya buat kamu dengan nada rendah kakeknya menasihati Nayla. Iya kek..
Sayur yang dihidangkan oleh kakeknya begitu lezat dan membuat Nayla ketagihan. Dia tidak menyangka, semakin lama kakeknya semakin jago dalam memasak. Bahkan ia pun tak bisa membuat sayur seenak dan segurih buatan kakeknya. Hmmm..lezat kek. Enak banget sayurnya dengan senyum yang merekah ia memuji masakan kakeknya. Siapa dulu Haris....!!. melihat gaya kakeknya ia, merasa kakeknya menjadi lebih muda dengan semangat muda yang berkobar-kobar. Malam itu, ia bisa melihat senyum keberkahan yang terlukis diwajah kisut kakeknya. Sudah lama ia tak melihat senyum dan tawa kecil yang menghiasi gundukan dahinya yang tersusun indah saat ia marah. Tetapi, hari ini semuanya sirna, berubah menjadi terlihat indah, semu tapi nyata dan tak pernah terbayangkan sebelumnya.

*******

Nayla...Nayla...Nayla...Ayo bangun. Terdengar suara lantang dari sudut ruangan tepat disebelah tempat tidurnya. Suara kakeknya terdengar jelas ditelinga Nayla. Tetapi, apalah daya Nayla tak mampu menjawab sahutan itu, karena rasa sakit yang ia alami. Benar-benar sakit sampai menyentuh tulangnya, hingga keringat dingin mulai mengucur sekujur tubuhnya. Kini ia tak mampu lagi membendung rasa sakit yang ia rasakan. Suara itu makin lama makin terdengar nyaring didekat sudut kamar Nayla. Itu pertanda Pak Haris kakek Nayla, datang menuju kamar Nayla untuk membangunkan Nayla. Ayo bangun Nayla, ini sudah hamp....... belum selesai Pak Haris melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba ia menunduk dan segera menghampiri Nayla yang tengah sibuk memijit-mijit kaki kirinya.
Airmata yang ada diujung mata kakeknya, ia tahan agar tak menyiksa bathin cucu yang sangat disayanginya itu. Ia merasa terpukul, melihat cucu yang cantik jelita harus menanggung cobaan yang sedemikian beratnya. Nayla, memang cantik, baik hati, bermata sipit, berambut panjang hitam pekat, dan sangat pintar. Tetapi, setiap manusia pasti memiliki kekurangan, dan kekurangan yang dimiliki oleh Nayla adalah kaki kiri yang tak sempurna. Kecelakaan lima tahun silam, mengharuskan Nayla untuk mengikhlaskan kakinya diamputasi. Menurut cerita kakeknya, Orang Tuanya meninggal ditempat kejadian dan ia terjepit ditengah-tengah ban mobil dan mengenai kaki kirinya, hingga terpaksa harus diamputasi. Semangat hidup yang ia tanamkan pada dirinya selalu menyertainya disetiap langkah kecilnya. Langkah pasti yang ia ayunkan selalu membawa kebahagiaan dihati kakeknya. Pantang menyerah yang dimilikinya itulah yang membuat kakeknya merasa bangga dan semangat menjalani hidup bersama cucunya itu dan berjuang hidup lebih lama lagi bersama cucunya, berharap ia bisa menemani cucunya selamanya.
Meskipun Nayla, saat menggembalakan kambing kakeknya, hanya bertumpu pada tongkat, namun ia masih saja kuat untuk berjalan dan menemani kambing-kambing yang terkadang nakal. Ia sudah terbiasa dengan perjalanan yang harus menghabiskan tenaganya untuk tetap kuat menuntun kambingnya menuju padang rumput, dan ia menikmati perjalanannya itu sebagai anugerah, karena ia bersyukur masih diberikan tenaga dan umur yang panjang untuk bisa menikmati dan mensyukuri atas nikmat Allah. Kakek, kaki Nayla terasa sakit sekali, seperti ditusuk-tusuk sampai ke tulang dengan nada datar ia mencoba menahan rasa sakitnya dengan sedikit nada meringis kesakitan. Sabar ya nak. Kakek panggilkan dulu Pak Suryo. Kamu tahan sebentar ya....
Dengan langkah yang gontai, Pak Haris berlari menuju rumah Pak Suryo. Pak Suryo, selain teman ngobrol kakek Nayla setiap harinya, pak Suryo juga adalah seorang dokter atau mantri yang ada di desa itu. Kira-kira dua puluh menit berlalu, pak Suryo dan Pak Haris tiba dirumah dan segera menemui Nayla yang sudah tidak kuat menahan rasa sakit yang dideritanya. Sepertinya, Nayla mengalami alergi pak. Kakinya yang sudah diamputasi sudah tidak steril lagi, sudah banyak kuman yang masuk dan menggerogoti tulangnya, kalau tidak dibersihkan bisa-bisa tulangnya membengkak Pak dengan nada khawatir Pak Suryo menuturkan ke Nayla dan Pak Haris.
Terus, saya harus bagaimana pak Suryo??? Supaya cucu saya tidak merasa kesakitan lagi?? tambah khawatir kakeknya, setelah mendengarkan penuturan dari Pak Suryo. Saya harus membersihkan dulu kaki Nayla, supaya steril dan memberikan beberapa obat tablet yang harus Nayla minum setiap hari untuk menghilangkan rasa sakit. Hati Pak Haris menjadi tenang, karena kaki Nayla akan diobati secepatnya oleh Pak Suryo. Dalam hati Pak Haris berterima kasih kepada Allah, bahwa ia sangat beruntung memiliki tetangga yang baik hati seperti Pak Suryo, dan ia sujud syukur bahwa cucunya dalam keadaan baik-baik saja. Semoga setelah kakinya di obati, rasa sakit yang diderita Nayla berkurang bahkan hilang. Sekitar setengah jam, pak Suryo membersihkan luka yang ada dibagian kaki Nayla, dan mengganti perban yang baru, karena perban yang lama sudah kotor dan hal itulah yang membuat tulang Nayla menjadi terinfeksi.
Setelah itu, Pak Suryo memberikan perban dan beberapa obat untuk Nayla dan semuanya itu dengan cuma-cuma beliau berikan kepada Pak Haris dan Nayla. Lagi-lagi pak Haris berterima kasih kepada pak Suryo, karena sudah banyak membantu.
Udah lumayan nggak sakit kan?? tanya kakeknya dengan perasaan harap-harap cemas pada cucunya. Sudah nggak kok kek. Alhamdulillah, kaki Nayla sudah agak enakkan sekarang, nggak seperti yang tadi-tadi. Kek, pak Suryo baik sekali ya sama kita?? matanya berkaca-kaca mulai terlihat diwajah kecilnya. Iya Nay. Pak Suryo adalah orang yang dikirim oleh Allah untuk kita. Karena, Allah tak akan membiarkan hamba-Nya sedih dan dirundung duka, asalkan hamba-Nya tersebut tetap istiqamah di jalan-Nya dan selalu berdoa serta ikhtiar suaranya terengah-engah karena, ia tak mampu menahan isak tangis yang hampir keluar dari matanya, tetapi semampunya ia menahan agar tak membuat hati cucunya sedih.

Kakek salut padamu Nay. Kamu tegar menjalani hidupmu yang memiliki keterbatasan untuk berjalan, jalan saja kamu masih meminta bantuan pada tongkat. Tetapi, kakek bangga padamu. Kamu selalu belajar mandiri, dan kamu bisa melakukannya sendiri tanpa meminta bantuan orang lain tambahnya. Iya kek. Sejak kecil aku sudah diajari untuk mandiri dalam melakukan hal apa saja kan oleh kakek??. Kakek yang mengajarkan  hal itu padaku, hingga aku tumbuh besar seperti ini pun tak pernah sedikitpun untuk mengeluh dan meminta ini dan itu pada kakek. Karena, aku iri pada kakek. Kakek, sudah tua tetapi tetap mampu melakukan aktifitas yang tiada hentinya, sedangkan aku perempuan belia berumur sepuluh tahun masak kalah dengan tenaga seorang kakek berumur tujuh puluh dua tahun. Satu hal yang membuat aku bertahan untuk hidup meskipun dengan keterbatasanku. Aku meyakini, bahwa kaki yang sebelah kiri tak berfungsi dengan baik, tetapi aku punya kedua tangan lengkap yang bisa berfungsi, jadi untuk apa aku mengeluh karena aku masih diberi tangan untuk bisa bekerja untuk membantu meringkankan kakiku, toh kakiku hanya  sebelah kiri yang patah dengan semangat ia menjelaskannya pada kakeknya. Kakeknya hanya bisa mengelus dada, berharap nantinya ia bisa melihat cucunya bahagia dan bisa mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Karena, tak banyak sosok seorang manusia, yang tetap tegar menjalani hidupnya yang bergantung pada sebuah tongkat.
Memang seperti itulah memaknai arti kehidupan. Semua manusia diberi kelemahan dan kelebihan dalam dirinya, tinggal bagaimana manusia itu mampu menutupi kekurangannya dengan kelebihan yang ia miliki, dan menggunakan kelebihannya itu untuk hal-hal yang benar dan tidak digunakan untuk kebahagiaan duniawi yang sesaat dan menghanyutkan. Seharusnya, kita sebagai manusia yang hampir sempurna, dengan memiliki kaki yang lengkap, tangan yang lengkap, mata yang sehat serta pendengaran yang baik, seharusnya pandai bersyukur dan tidak bermalas-malasan untuk bekerja, menuntut ilmu, dan melakukan hal-hal positif yang bisa kita lakukan. Merugilah bagi orang-orang yang tak mau mensyukuri nikmat dari Allah. Karena, masih banyak saudara-saudara kita yang tangannya tak sempurna, tetpai masih tetapi menjalani aktifitasnya untuk membantu meringankan beban keluarganya, atau saudara-saudara kita yang tidak memiliki kaki yang lengkap tetapi, tetap melangkahkan kakinya ke jalan yang diridhoi-Nya dan selalu bekerja untuk mendapatkan sesuap nasi, meski kaki hanya bertumpu pada kursi roda ataupun tongkat.


Tidak ada komentar: